Hina Agama lain dibui 2 tahun, Hina Islam Insaa Allah tidak dibui

1
202

Jakarta detik.com – Rusgiani (44) dipenjara 14 bulan karena menghina agama Hindu. Ibu rumah tangga itu menyebut canang atau tempat menaruh sesaji dalam upacara keagamaan umat Hindu dengan kata-kata najis.

Kasus bermula saat Rusgiani lewat di depan rumah Ni Ketut Surati di Gang Tresna Asih, Jalan Puri Gadung II, Jimbaran, Badung, pada 25 Agustus 2012. Saat melintas, dia menyatakan canang di depan rumah Ni Ketut najis. Canang adalah tempat sesaji untuk upacara agama Hindu.

\\\”Tuhan tidak bisa datang ke rumah ini karena canang itu jijik dan kotor,\\\” kata Rusgiani seperti tertulis dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Denpasar yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Kamis (31\/10\/2013).

Menurut Rusgiani, dia menyampaikan hal itu karena menurut keyakinannya yaitu agama Kristen, Tuhan tidak butuh persembahan. Rusgiani mengaku mengeluarkan pernyataan itu spontan dan disampaikan di hadapan tiga orang temannya.

\\\”Tidak ada maksud menghina atau pun menodai ajaran agama Hindu,\\\” ujar Rusgiana.

Atas perkataannya itu, Rusgiani dilaporkan ke polisi setempat. Setelah melalui proses penyidikan yang cukup lama, Rusgiani pun duduk di kursi pesakitan. Jaksa menuntut Rusgiani dengan hukuman 2 tahun penjara. Lalu apa kata majelis hakim?

\\\”Menjatuhkan hukuman 1 tahun dan 2 bulan penjara,\\\” putus majelis hakim yang diketuai oleh AA Ketut Anom Wirakanta dengan anggota Indria Miryani dan Erly Soeliystarini.

Majelis hakim menyatakan Rusgiani telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan agama yang dianut di Indonesia. Perkataan Rusgiani dapat mengganggu kerukunan umat beragama dan telah menodai agama Hindu.

\\\”Perbuatan terdakwa dapat mencederai hubungan keharmonisan antar umat beragama di Indonesia,\\\” ujar majelis yang dibacakan pada 14 Mei 2013 lalu. Atas vonis ini, Rusgiani menerima dan tidak mengajukan banding.


Dari berita diatas kita bisa lihat kalau seseorang mengucapkan sesuatu kata yang menyinggung umat agama lain bisa dipastikan akan berurusan dengan hukum. Kenapa demikian? Mungkin ajaran agama setiap orang berbeda dalam cara ibadahnya dan berbeda juga keyakinannya. Dan setiap pemeluk agama pun diharuskan taat pada ajarannya (jika memang mempunyai agama dan cinta terhadap agamanya). Ada juga yang mungkin hanya beragama tapi tidak menjalankan ibadahnya dan bukan berarti jika ajarannya di hina atau ada yang menghina agamanya pastilah akan merasa tersinggu. Dan itu saya bilang wajar.

Nah tahun ini kita dikejutkan dengan pernyataan gubernur non-aktif Basuki Cahaya Purnama atau biasa disebut Ahok. Jika kita tidak memilih dia sebagai pemimpin ibu kota Jakarta maka kalian (umat muslim) telah dibodohi oleh surat Almaidah 51 sbuah kitab suci umat muslim Al-Quran. Dan yang kita tau jika Ahok tersebut bukanlah umat muslim, sehingga umat muslim merasa dilecehkan atau dihina oleh ajarannya yang selama ini diyakini kalau Al-Quran adalah kitab suci sempurna bagi umat muslim itu sendiri.

Nah yang jadi permasalahnnya adalah, masyarakat merasa penegakan hukum untuk kasus Ahok ini terasa lambat atau sengaja tidak di kasuskan. Karena belum lama Ahok sudah memberikan pernyataan maafnya ke Polri dan media. Namun masyarakat khususnya umat muslim merasa itu tidak adil karena kasusnya hanya cukup dengan minta maaf. Jika ini dibiarkan, kekawatiran muncul jika suatu saat terjadi seperti ini maka cukup dengan minta maaf maka proses hukum terhenti.

Nah menurut kalian bagaimana seharusnya masyarakat meminta keadilan? Jawab dikomentar ya 🙂

Sumber: news.detik.com/berita/2400764/hina-agama-hindu-ibu-rumah-tangga-di-bali-dibui-14-bulan

  • Rumah Indah

    Nambh pengetahuan gan. Makasih